Niatakan menjadi faktor yang sangat menentukan, jika niat kita sudah dibenahi maka kebaikan yang akan kita dapatkan tidak hanya sampai di dunia saja akan tetapi dapat kita rasakan hingga di akhirat kelak. Dari Umar, bahwa Rasulullah ` bersabda, "Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.
Caracara utuk menemukan kebenaran merupakan sebagai berikut: 1. Penemuan Secara Kebetulan. Penemuan kebenaran secara kebetulan adalah inovasi yg berlangsung tanpa disengaja. Dalam sejarah insan, inovasi secara kebetulan banyak jua yg berguna walaupun terjadinya tidak dengan cara ilmiah, tidak disengaja serta tanpa planning.
11 Latar Belakang Masalah. Sumber daya adalah segala sesuatu yang merupakan aset perusahaan untuk mencapai tujuannya. Sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat dikategorikan atas empat tipe sumber daya, seperti Finansial, Fisik, Manusia dan Kemampuan Teknologi.
maudan ingin melakukan sesuatu dan bila ia suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau meninggalkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar, tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai
Takdiradalah sesuatu yang telah digariskan oleh Allah SWT sejak zaman azali yaitu zaman sebelum manusia itu ada. Sehingga takdir manusia itu telah dituliskan dilauhul mahfud sebelum manusia itu diciptakan dan tidak ada yang bisa merubahnya. Ada takdir manusia yang masih bisa dirubah selama manusia itu mau berusaha sendiri untuk memperbaikinya.
Inilahpola "alam" karya snag pencipta yang membuat kita sebenarnya selalau "tunduk" dengan kuasaNya. Ada "hukum alam" yang kemudian sering kita kenal sebagai ungkapan: "Manusia berusaha, Tuhan menentukan" . dalam kondidi tersebut, seberapah keras usaha yang kita lakukan, apapun hasilnya, kita selalu pasrah dan berserah, karena pasti ada hukum alam yang luar biasa indah dibalik
. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. ....'Manusia hanya bisa berlogika tetapi Tuhanlah yang menentukan'... apakah itu sebuah pernyataan yang didalamnya mengandung 'sesat fikir berlogika' atau 'logical fallacies' tea menurut kaidah ilmu logika ? ... silahkan diperdebatkan kalau mau,tetapi menurut saya tidak,mengingat betapapun manusia berupaya untuk berlogika sebaik dan se tertib mungkin dengan mengikuti kaidah - aturan ilmu logika yang bisa super ketat itu tetapi itu sama sekali tidak menjamin manusia akan menemukan kebenaran serba pasti dan serba meyakinkan,sebab berlogika itu sebenarnya parallel dengan 'berusaha',yaitu berusaha untuk memperoleh kebenaran dan yang namanya 'berusaha' tentu tidak dijamin pasti akan membuahkan hasil bukan ?Andai manusia berlogika dengan taat mengikuti kaidah-aturan ilmu logika untuk menyelesaikan beragam soal ujian yang mereka hadapi disekolah, apakah itu ujian pelajaran matematika atau ilmu fisika misal maka bisa jadi semua mungkin saja akan menghasilkan rumusan yang sama dan semua bisa saja memperoleh nilai yang sempurna 10,tetapi realitas kehidupan dengan beragam problematika nya yang bersifat kompleks tidak bisa disamakan dengan ujian akademik yang murni melatih pelajar berfikir logic-sistematik, bila manusia menggunakan kaidah kaidah ilmu logika yang sama sebagaimana yang telah mereka serap dari buku buku pelajaran ilmu logika untuk menyelesaikan beragam problem kehidupan yang mereka hadapi apakah dijamin mereka akan menghasilkan hasil - rumusan yang sama-keyakinan yang sama serta jalan keluar yang persis sama ? .... kemungkinan besar tidak,sebab dalam realitas kehidupan yang sebenarnya berlogika itu ternyata dipengaruhi oleh berbagai hal cara pandang-keyakinan-niat dan tujuan serta tentu masalah yang dihadapi yang tiap orang pasti menemukan serta menghadapi problem kehidupan yang berbeda beda-tidak sama. Dalam kehidupan, logika itu tidak selalu murni hadir sebagai 'ilmu steril' tetapi ia bisa berkelindan dengan rasa-dengan emosi-dengan suara hati-dengan nurani-dengan keyakinan-dengan etika dan hal hal non logic lain jadi logika sebenarnya tidak lah pernah bisa berdiri keputusan akhirpun biasanya tidak lah selalu ditentukan oleh logika tetapi terutama pada hal hal yang bersifat fundamental kebanyakan oleh hati sebab hatilah memang yang akhirnya akan mengendalikan logika,dimana hati memegang logika itu ibarat manusia memegang pisau,mau diapakan itu pisau bergantung pada yang memegangnya bukan bergantung pada pisau nya,logika itu ujungnya akan bergantung pada hati 'sang pemegang isi kepala' Bayangkan seorang penjahat dan seorang hakim atau polisi sebagai makhluk berakal mereka tentu akan sama sama berlogika tetapi untuk tujuan yang pasti tidak sama,seorang materialist dan seorang yang percaya kepada adanya alam gaib juga akan sama sama berlogika, bahkan semua mungkin memegang buku pengantar ilmu logika yang sama, tetapi kesimpulan yang dihasilkan bisa berbeda sebab mereka berbeda kacamata sudut dan polisi sama sama berlogika dan sama sama mengikuti serta mempraktekkan kaidah ilmu logika tetapi mereka menggunakannya untuk tujuan yang berbeda apakah logika akan selalu melahirkan rumusan atau kesimpulan yang selalu sama ?.... bergantung pada banyak hal ... Kita kembali kepada persoalan berlogika yang diparalelkan dengan 'berusaha' .....Ambil contoh nyata betapa para filosof mulai dari zaman filsuf klasik hingga era filsuf kontemporer telah berusaha menggunakan logika akal nya sebaik mungkin tentu saja mereka berupaya untuk menemukan 'kebenaran' yang bisa mereka fahami berdasar sudut pandang masing masing tentunya, tetapi apakah 'kebenaran' hasil rumusan ber logika mereka persis sama ? ... tentu saja tidak,lahirnya berbagai aliran-mazhab pemikiran dengan corak pemikiran yang berbeda beda itu menunjukkan bahwa berlogika kalau ingin memparalelkan semua kegiatan berfilsafat para failosof dari berbagai generasi sebagai 'berlogika' itu tidak pasti akan melahirkan bentuk 'kebenaran' yang sama dan serba disepakati walaupun kaidah kaidah ilmu logika telah sama sama di ketahui dan telah sama sama disepakati mungkin oleh hampir semua pemikirDan lalu, apakah dengan kegiatan berlogika para failosof dari berbagai aliran pemikiran itu telah sama sama bisa menggapai kebenaran tertinggi dan terakhir yang bersifat hakiki yang semua bersepakat atasnya ? .. pada kenyataannya tidak .... hasil dari mereka berlogika dari berbagai arah-sudut pandang yang berbeda itu pada umumnya selalu bermuara kepada pertanyaan pertanyaan mendasar yang sama yang tidak bisa lagi dijawab oleh keterampilan manusia berlogika,sebagai contoh - apakah hakikat kehidupan ?-apakah hakikat kenyataan ?- apakah hakikat manusia ? 1 2 3 Lihat Humaniora Selengkapnya
manusia hanya berusaha tetapi yang menentukan berhasil atau tidak adalah